Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Kita tahu bahwa produk sebagus apapun, dengan pemasaran yang jelek
susah untuk laku dipasaran. Bagaimana dengan diri kita? Apakah secara
serta merta kita ini akan laku dipasaran tenaga kerja? Memasarkan diri
sendiri bukan semata-mata kepentingan para mahasiswa yang baru saja
diwisuda. Bukan mereka yang tengah berdebar-debar melamar pekerjaan
kesana-kemari. Bukan pula monopoli para peserta Indonesian idol supaya
disamber para produser untuk dilejitkan menjadi seorang bintang
dipanggung. Kita semua berkepentingan untuk memasarkan diri kita
sendiri. Bahkan ketika kita sudah memiliki pekerjaan yang bagus
sekalipun. Lantas, kapan kita boleh berhenti memasarkan diri? Ketika
kita tidak mengharapkan apapun lagi dari lingkungan eksternal kita.
Tetapi, mungkinkan itu?
Selengkapnya dapat dibaca di: http://www.dadangkadarusman.com/
Untuk menjamin kebebasan berpendapat (sepakat untuk tidak sepakat) sekaligus
untuk kenyamanan bersama, ditetapkan Tata Tertib milis Diskusi-Kepemimpinan
sebagai berikut :
1. Milis Diskusi-Kepemimpinan hanya menerima dan meneruskan e-mail yang
mengandung unsur kebaikan, menarik dan inspiratif.
2. Pola komunikasi antar anggota Milis Diskusi-Kepemimpinan bersifat Interaktif
atau Dua Arah. Untuk itu :
a. Bagi rekan yang ingin berdiskusi, memberikan tanggapan, keberatan ataupun
protes keras atas artikel sebelumnya, disarankan untuk menyajikannya dalam
bentuk tulisan / artikel tandingan lengkap dengan alasan, dalil ataupun dasar
hukumnya
b. Tanggapan, keberatan ataupun protes keras yang bersifat menilai / menyerang
langsung pribadi penulis terdahulu, tidak akan diteruskan Moderator.
c. Bagi yang bermaksud bertanya, memberikan tanggapan, komentar pendek, protes
keras, disarankan langsung ke e-mail pribadi (japri) terkait.
d. Apabila dipandang perlu, Moderator berhak memberikan catatan kaki serta
melakukan proses editing dengan tanpa mengubah ide penulisan.
e. Email tanggapan / komentar (Re:) yang bersifat celetukan atau basa basi tidak
akan diteruskan Moderator.
3. Email Diskusi-Kepemimpinan di moderasi, oleh sebab itu email yang tidak
sesuai dengan tujuan milis, seperti artikel yang mengandung unsur SARA, SPAM,
Pornografi, MLM, Iklan, Pelecehan, Umpatan dll. akan diedit / ditolak / dihapus.
Anda dapat langsung di "banned" Moderator tanpa peringatan terlebih dahulu.
4. Milis hanyalah sebuah sarana ! Oleh sebab itu, gunakanlah fasilitas Milis
secara bertanggung jawab. Milis Diskusi-Kepemimpinan tidak bertanggung jawab
atas "kebenaran" isi Email Anda ataupun segala akibat yang ditimbulkannya.
Selamat Berkontribusi dan Selamat Menikmati !
Berhubung banyaknya permintaan akan koleksi tips motivasi, komunikasi, dan leadership yang selama ini dirilis. Berikut ini kami sampaikan ebook dalam format yang lebih mudah untuk dinikmati, tidak seperti koleksi yang sebelumnya yang berformat teks murni.
Dengan format baru ini, koleksi tips motivasi, komunikasi, dan leadership (Tips 1 - 100) bisa Anda nikmati dengan lebih nyaman.
Silahkan Anda download file yang bernama "QA-Tips.zip". Kemudian ekstraklah file "QA-Tips.chm" yang ada di dalamnya. Selanjutnya, silahkan dobel klik file chm tersebut, dan ebook siap dinikmati. File ini sulit diattach secara langsung pada email, karena sifatnya yang executable, sehingga harus didownload langsung dari alamat di atas.
Sisa tips sebanyak 65, masih belum dimasukkan ke dalam ebook ini, jadi jika memerlukan silahkan mengunjungi langsung blog saya.
NB: Tampilannya kurang lebih seperti attachment pada email ini.
Hore,
Hari Baru!
Teman-teman.
Jika kita berdoa biasanya kita mengharapkan doa itu segera dikabulkan,
bukan begitu? Bahkan, kita sering berharap agar doa itu langsung
dikabulkan tepat disaat kita selesai mengucapkannya. Seketika itu
juga. Memang kadang kita ini tidak realistis, sih. Tapi, sebenarnya,
berharap agar Tuhan segera mengabulkan doa kita tidaklah berlebihan.
Dan memang kenyataannya begitu, kok. Tuhan mengabulkan begitu banyak
permintaan kita, dengan segera. Coba saja anda renungkan; kapan
terakhir kali anda berdoa dan doa itu langsung dikabulkan Tuhan?
More to see on: http://www.dadangkadarusman.com/
Dalam sebuah diskusi tentang mengimplementasikan teknik NLP dalam dunia nyata, sedang dibahas tentang teknik yang disebut dengan "Perceptual Positions" (Perceptual Perception kalo istilah saya). Intinya, yaitu bagaimana menyelami proses berpikir dengan topi dan sepatu orang lain (Edward De Bono). Kemampuan ini adalah kemampuan yang dimiliki oleh mereka-mereka yang berhasil, di mana mereka berhasil melakukan apa yang sering kita kenal dengan ATM, amati, tiru, dan modifikasi.
Teknik modelling inilah yang membuat banyak orang sukses, sebab apap pun di dunia ini sudah ditemukan. So, don't try to reinvent the wheels. Lebih baik meniru bagaimana orang berhasil meniru orang sukses. Berikut ini adalah contoh yang nyata.
(BTW, ada seminar yang akan dibawakan oleh Mas Adi Putera Widjaya, seorang tokoh NLP kondang, yang mungkin bisa sangat membantu Anda untuk memodel kesuksesan.)
Ceritanya begini. Bro, sis, aku nemu postingan yang sangat membantu bagaimana NLP modelling dengan perceptual perception ini. Di dalam artikel ini kurang terlihat faktor "mind to muscle", "feeling", dan "modelling"-nya. Maklum, yang praktek emang entrepreneur. Tapi kurang lebih, menurut saya begitulah semestinya semua ini akan bermuara. Tul gak?
Bro dan sis kenal kan Masbukhin? Ia telah berhasil memodel, dan kini bisa jadi model, he...he...he...
Proses teknis NLP-nya pasti panjang. Tapi Mas Adi dan Mas Teddy yang lebih pakar mungkin bisa memperjelas ini.
Saya Ingin Anda Sukses, Saya Harus Membuat Anda Sukses.
4 Kuadran E, SE,B, dan I adalah kaudran yg didengungkan Robert Kyosaki. Tentu teman2 tidak asing lagi. Banyak orang yg lulus sekolah mencari uangnya dengan menjadi Employee (karyawan). Mayoritas menjadi E adalah fakta. Kenapa ?
1. Karyawan Perlu duit, padahal kalau mau bisnis pasti perlu modal uang dan pengalaman. 2. Peusahaan juga butuh orang yg tepat utk mengerjakan job2nya, shg mau membayar karyawan.
Jadi memang ada kebutuhan 2 belah pihak dan saling ketergantungan. (Ref: 7 Habits). Posisi ketika sbg E secara financial, tentu berbeda dgn perusahaan/pemilik bisnis. Ya pasti lebih kaya pengusahanya (kalau perusahaannya sdh jalan & untungkan) ?
Gampangnya, ketika Anda jadi Karyawan & ingin jadi Pengusaha, berpikirlah sbg managernya, kadang direkturnya dan kadang pemiliknya. Kita melamun yg ringan2 saja. Andai saya diangkat jadi direktur, kebijakan apa yg akan saya ambil utk karyawan? Misal menambah tunjangan, memperbesar kesempatan training, dsb. Kenapa tindakan ini saya ambil. Lihatlah dari atas (helicopter view) atas permasalahan divisi 2 dan cari jalan keluarnya.
Terus dipertajam lagi: Tunjangan apa yg dinaikkan? Lalu loncat jadi direktur Finance 'Duitnya cukup gak ya ?' 'Alasan apa utk orang Finance ?' Naah, proses berpikir yang seperti ini akan mempengaruhi cara kita memandang sesuatu. Jadi kalau nanti Anda lepas dari karyawan, cara mikir kita sdh spt direktur. Karena kita mengangkat diri kita menjadi direktur.
Jangan kita sudah punya PT, status di kartu nama sbg Direktur, tapi ngomong dan berpikirnya seperti spesialis (baca:karyawan yg selalu berpikir detail).
Sikap ini sering saya lakukan ketika saya menjadi karyawan. Terhadap masalah dan penyelesaian di kantor, saya menilai 'Kenapa GM saya melakukan ini? 'Kenapa direktur saya memperlakukan GM A seperti ini. Kenapa terhadap GM B berbeda. Terus saya memberikan ulasan sambil makan siang di kantor. Menurut RK, sudah biasa bawahan 'ngerasani' atasan.
Tapi yang saya lakukan adalah mengevaluasi dan memberikan masukan. Bukan untuk direktur saya, tapi untuk investasi di otak saya dan saran buar direktur yang akan saya gaji, kelak.
Ini baru Tips ke-1 Cara Berpindah Kuadran. Susah nich ngetiknya pakai HP :-)
Selamat Mencoba !
Salam Entrepreneur!
Masbukhin Pradhana Penulis buku wirausaha 'Cara Brilian Menjadi Karyawan Beromzet Miliaran'
Menurut saya, itulah ungkapan yang paling tepat untuk seorang Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian 2006, saat membaca artikel Kompas, Minggu 12 Agustus 2007 tentang “Kewirausahaan Sosial Muhammad Yunus”.
Ibarat seorang Newton yang mampu “melihat” rumus Newton, disaat orang lain tidak melihatnya, beliau secara “jeli” mampu melihat tentang “potensi” manusia sekalipun terlilit kemiskinan, potensi wanita sekalipun oleh budaya lokal terpinggirkan.
Berikut butir butir mutiara pemikiran beliau yang sayang untuk dilewatkan begitu saja :
- Ia percaya tentang sistem ekonomi yang kompetitif, namun menolak ketamakan - Ia “mengakui kelemahan” teori teori ekonomi yang ia ajarkan diruang kelas karena ternyata “tidak berdaya” menghadapi kelaparan dan kemiskinan - Ia meyakini bahwa pembangunan akan mandek kalau orang miskin dibiarkan pada
posisi penerima sedekah (objek) - Orang orang miskin itu cerdas, yang dibutuhkan hanyalah akses - Orang miskin itu ibarat bonsai. Seperti bibit pohon terbaik namun tidak dapat tumbuh sempurna karena media tanah yang terbatas - Ia meyakini kemiskinan diciptakan oleh struktur, kebijakan dan sistem di masyarakat - Dasar social business entrepreneurship (SBE) adalah kesadaran sosial, bukan maksimalisasi laba - Ia meyakini suatu program baru diketahui hasilnya kalau sudah di coba - Setiap orang punya dimensi yang lebih luas dari sekedar menjadi mesin pencari uang, untuk itu beri mereka ruang untuk mengekspresikan dirinya - Sistem keuangan saat ini tidak lengkap dan eksklusif karena hanya melayani sebagian orang (tidak menjangkau orang miskin) - Sistem sekarang didasarkan pada ketidak percayaan (untuk mendapatkan kredit diperlukan jaminan) - Kami yang mendatangi orang miskin dan buta huruf bukan sebaliknya, karena orang yang datang meminta bantuan
selalu pada posisi lebih lemah - Dalam sistem budaya yang menyubordinatkan perempuan, pemberdayaaan adalah ancaman terhadap otoritas - Perempuan yang berbisnis dikatakan bertentangan dengan nilai nilai agama, padahal istri pertama Nabi Muhammad SAW, Siti Khadijah adalah saudagar yang berhasil - Grameen Bank tidak bertentangan dengan syariah karena tujuannya bukan maksimalisasi laba - Banyak kajian memperlihatkan setelah perempuan memiliki akses ekonomi, rekening bank, punya menghasilan dan lebih independen membuat hubungan baik suami istri meningkat, kekerasan dalam rumah tangga jauh berkurang, suami lebih respek pada pasangan, anak anak yang bersekolah lebih banyak. (Disari dari Kompas, Minggu 12 Agustus 2007 tentang “Kewirausahaan Sosial Muhammad Yunus”.)
Analog dengan keberhasilan beliau membangun Grameen Bank (saat ini lebih dari 250 lembaga di hampir 100 negara mengadopsi program kredit mikiro Grameen Bank), kiranya
keberhasilan beliau “memberdayakan” kaum miskin dapat dijadikan model “pemberdayaan karyawan” di perusahaan. Sehingga perusahaan dapat memahami karyawan sebagai subjek bukan objek, sebagai asset perusahaan bukan sebagai pusat biaya.
Artinya :”Karyawan Anda adalah orang orang cerdas, yang mereka butuhkan hanyalah kepercayaan dan kesempatan !”
Bukankah selama ini kita sudah kenal??? setidaknya melalui forum ini kan? Anyway, terimakasih complimentnya yang memberi semangat untuk terus mencoba berexpressi.
Menurut saya yang sangat dibutuhkan untuk bangsa ini, mensosialisasikan 'arti kepemimpinan' dengan satu kalimat pendek sehingga mudah dimaknai manusia, siapapun dia, ...... ini sebagai pendekatan semantik untuk menerapi mindset bangsa ini agar berperilaku sebagimana mindset 'kepemimpinan' misalnya 'kepemimpinan adalah cipta, karsa, rasa yang punya memberdayakan dan memberdayakan lingkungannya.
Yang kedua, contoh nyata dari para pemuka masyarakat 'pendekatan model' menebar care pada kehidupan bangsa ini, jangan korupsi, yang saya yakini kalau hidup tidak dari korupsi, metabolisme lahir batinnya, kinerjanya akan selalu berpikir pada bagaimana kehidupannya
jadi bagian dari pemberdayaan manusia.
Negeri ini kaya raya, tapi budaya para agen perubahan itu yang sungguh merusak bangsa ini, karena mereka tidak lagi punya goal untuk mencapai kehidupan manusia yang luhur, yang bermartabat.
Kalau istilah para sesepuh saya dulu, dalam hidup ini yang harus di-ukir
adalah hidup yang punya semat, drajat, rahmat.....bagaimana bisa mumpuni, mitayani, murakapi untuk sesama dengan cara jujur tidak korupsi karena kalau korupsi, kata mereka dan pasti kita amini, ...negarane rugi......kalau negaranya rugi, apa yang bisa mereka perbuat bagi kesejahteraan bangsa dan negaranya, karena manusianya tidak memiliki bibit yang baik alias orangtuanya berdarah korupsi, bebetalias kekayaan, mana ada kekayaan yang bisa jadi multiplier kalau mencari bukan karena olah pikir yang benar tapi dengan cara yang picik,licik,renadah
sebagaimana memancing ikan di akuarium, bobot alias kepandaian, pendidikan, kepandaian karena belajar untuk mengakumulasikan ilmu yang berdaya guna bagi sesama, orang yang korupsi tak akan punya motivasi mengembangkan ilmunya .
Pepatah bijak mengatakan 'orang yang orientasinya ilmu tunggu jaman keemasannya tapi orang yang orientasi kehidupannya materi tunggu jaman kehancurannya ......... ini bukti kebenaran firman Tuhan, hanya dengan iman dan ilmu manusia bisa memanusiakan dirinya, menjadi bangsa yang bermartabat karena anak bangsanya ber-iman dan ber-ilmu, bangsa kita????
harus merubah DNA-nya secara revolusioner istilah Rhenald Kasali, agar tidak tampil dengan perilaku 'bukan manusia alias animali' sebagaimana yang kita lihat dan rasakan selama ini, dengan uang korupsinya mereka slingkuh sana sini seperti ayam kampung, badan dan tampang yang seperti babi, badak dan sejenisnya karena gaya
hidupnya kaya harimau rakus, produk bicaranya tidak lugas nan smart, begitu-begitu saja ngeang-ngeong, embak-embak, guk...guk...guk monoton, berceloteh, ngawur tanpa makna memberdayakan karena waktunya tidak dimanage untuk belajar menambah ilmu empiris agar punya kompetensi mendekati sejatining bener, sejatining hidup yang bermanfaat untuk sesama, ini semakin parah karena komunitasnya-pun pasti orang-orang yang punya kualitas sejenis, yang menyedihkan mereka itu 'yang seharusnya jadi model produk manusia yang benar bagi bangsanya', kualitas informasinya-pun hasil interaksi informasi produk manusia yang tidak punya bibit, bebet, bobot. (ternata setiap orang punya potensi berketurunan yang memiliki bibit, bebet, bobot.....it's not a given one)
Semoga forum ini bisa menjadi embrio untuk melahirkan penulis buku, pembicara yang bisa mensosialisasikan definisi kepemimpinan yang saya maksud dengan kalimat yang sederhana,
lugas, sehingga berfungsi sebagai terapi semantik, mindset, dan model yang benar. Pak Isy, saya kok punya keyakinan Anda punya 'resources' untuk membuat our dream comes true. Amin. Isywara Mahendratto <isywaramahendratto@...> wrote:
Salam kenal buat bung Heriyanto.
Terima kasih atas sharingnya dan sangat inspiratif.
Saya sangat setuju dengan pendapat Anda khususnya pada pembentukan jati diri yang on track (meminjam istilah Anda).
Hanya harus diakui bahwa kebanyakan di Indonesia, ilmu "berani
hidup" selama ini masih diperoleh secara alamiah dan situasional tergantung dari kebiasaan keluarga, sekolah, tetangga, lingkungan kerja yang nota bene juga terbentuk secara alamiah.
Padahal "kecerdasan emosional" ataupun "kecerdasan sikap" sebagai sebuah keterampilan hidup dapat dirancang, direkayasa (baca : dikondisikan) sesuai output yang diinginkan. Bahkan dinegara maju hal tersebut sudah dilembagakan dalam bentuk pusat pengembangan kreatifitas, lembaga riset produktifitas, pusat pengembangan budaya dsb.
Kalaupun posting anggaran pendidikan RI yang 20% APBN jadi (?) dikeluarkan, seharusnya pendistribusian sebahagian besar anggaran difokuskan pada pemberdayaan SDM, life skill education, entrepreneurship dsb.
Demikian pula perusahaan perusahaan yang telah memiliki kepedulian (anggaran) dalam pengembangan SDMnya, sebaiknya porsi pelatihan yang berhubungan dengan motivasi, kecerdasan sikap, team
building diperbesar dan dilakukan secara kontinyu. Dengan demikian saat karyawan mulai menyadari bahwa "kompetensi" merupakan kebutuhan pribadi, karyawan telah siap membiayai sendiri pelatihan tehnis, melanjutkan kuliah dsb. Sehingga anggaran pelatihan perusahaan dapat dihemat dan digunakan untuk pelatihan pelatihan khusus.
Pada skala rumah tangga, dari sebahagian penghasilan yang dimiliki perlu pula dianggarkan untuk memenuhi kebutuhan "gaya hidup" membaca, pelatihan ekstra tentang pendidikan anak, ilmu komunikasi dan manajemen berkeluarga dsb.
Insya Allah, pembentukan jati diri Anak Indonesia, keluarga Indonesia, karyawan perusahaan Indonesia selalu "On Track" seperti yang kita semua inginkan. Amien.
--- In Diskusi-Kepemimpinan@yahoogroups.com, heriyanto notoseputro <r.heriyanto@...> wrote: > > Dari pengalaman baca yang saya peroleh, setiap karyawan atau bahkan setiap manusia yang ingin merealisasikan sifat manusia yang 'omnipotent' alias serba bisa, diantaranya harus menyadari beberapa hal: > > Selalu berkomunikasi kepada Tuhan, di dalam situasi apapun. Komunikasi kepada Tuhan analog dengan apa yang sering disebut 'self talk' dan ini bisa meregulasi diri sendiri atau membangun integritas dalam pengertian kesamaan kata dengan perbuatan. Kalau diri kita selalu berkomunikasi dengan Tuhan, 'ya Tuhan beri aku kesehatan jiwa raga agar aku bisa bermanfaat di kantor ku sehingga aku bisa mensejahterakan lingkunganku' apabila 'self talk'nya berkualitas perilakunya akan sangat helpful, selalu memberdayakan dirinya untuk memberdayakan
lingkungannya, dalam situasi perekonomian yang normal, orang seperti ini akan memdapatkan lingkungan yang mensejahterakan dirinya, keluarganya, organisasi kerjanya, interaksi disekitarnya akan bersifar resiprokal yang berdaya guna. > selalu berpergang pada platform, prosperity is the right use of one kind to lead an increase in other kinds, yang maksudnya selalu mendaya gunakan semua sumber daya yang dimilikinya baik materi atau non materi sehingga punya fungsi multiplier sehingga punya dampak 'multi effek'. Take home-pay yang penggunaannya didifersifikasikan sedemikian rupa dampaknya akan lebih berlipat ganda dari pada, misalnya hanya digunakan untuk makan saja. Saya pernah berpenghasilan hanya cukup untuk makan, tapi saya menggunakannya untuk makan sehari sekali, untuk kursus bahasa inggris, memberikan sebagian pada orang tua, dengan begini saya bisa bertahan karena masih makan, saya bisa tekun memohon pada
Tuhan karena tidak terlalu kenyang, saya punya komitmen untuk berpikir bagaimana mendapatkan kualitas kehidupan yang lebih baik, pemahaman bahasa inggris saya meningkat, ketenangan emosi saya terjaga karena selalu ingat orang-tua, dan dampak dari ini semua membuat banyak hal lagi yang bisa saya > lakukan karena pemahaman bahasa inggris saya misalnya membuat bacaan saya bukan hanya buku yang berbahasa indonesia, lingkungan saya termasuk para native speaker dari beragam bangsa, saya dapat kerjaan dan gaji yang lebih bisa di kembang-tumbuhkan lagi. > Keep long-life learning, manusia akan punya derajat kemanusiaan, bisa lebih exist sebagai manusia kalu punya iman dan ilmu. Seberapa kualitas iman dan ilmu kita hanya bisa ditentukan oleh seberapa berkualitasnya kita belajar melalu 'membaca'. > Dengan tiga hal diatas yang dikembangkan sedemikian rupa, kita akan meraih berbagai karakter yang menuntun kita pada
jalan yang 'on trak' menuju kesuksesan karier dalam arti mampu memberdayakan diri dan dalam waktu yang bersamaan juga memberdayakan lingkungan pribadi dan dan lingkungan organisasi atau seluruh stakeholder di dalam kehidupan kita, karakter yang dimaksud: > > Emotionally Stability, ketidak stabilan emosi biasanya karena adanya gap antara keinginan untuk mengendalikan dengan ketidakmampuan karena beberapa keterbatasan termasuk kurangnya pengetahuan untuk mengendalikan. Kestabilan emosi mengurangi hambatan komunikasi yang benar dan berkesinambungan di dalam meningkatkatkan kinerja diri dan lingkungannya. > Defence Mechanism, kita tidak akan terlalu 'mempertahankan diri dalam setiap tindakan, kita tidak terlalu 'bertopeng' di dalam bersikap, kalau memang alah kita mau disalahkan dan belajar dari kesalahan itu. Karakter ini membuat kita menjadi orang yang mau belajar untuk mendapatkan dan menerima apapun
yang benar dan dari manapun datangnya kebenaran itu termasuh dari bawahan atau anak buahanya sekalipun. > Interpersonalship, bagaimana menciptakan interaksi antar pribadi dengan tepat dan benar sesuai yang dibutuhkan oleh lingkungan. > integrity, kesatuan kata dan perbuatan memberikan kepercayaan pada lingkungan dan tidak menimbulkan 'kebingungan' di dalam menilai kinerja yang di harapkan. > technical and cognitive skill, kemampuan secara kognitif dan teknis selalu di tuntut pengembangannya untuk perkembangan individu maupun organisasi. > Kelelahan, kejenuhan, kebosanan adalah khas manusia dan semua ini membuat kinerja yang buruk, karena itu setiap agen perubahan di dalam organisasi harus memfasilitasi tumbuhnya budaya selalu berkomunikasi pada Tuhan-nys, memahami pentingnya menjadikan sumberdaya yang dimiliki setiap individu bisa berfungsi sebagai 'multiplier', Keep Longlife Learning,
sehingga 'traits' emotionally stability, defence mechanism, interpersonalship, integity & technical and cognitive skill bisa di kelola untuk menjadi sesuatu yang mampu mengelola kinerja yang memberdayakan organisasi dan seluruh karyawannya. > > > Isywara Mahendratto <isywaramahendratto@...> wrote: > Studi tentang faktor faktor penyebab kelelahan lahir batin dalam organisasi yang dilakukan pada beberapa ribu pria dan wanita dari ratusan perusahaan selama dua puluh tahun menunjukkan terdapat enam faktor utama yang menyebabkan menurunnya moral dan motivasi karyawan. (Michael P. Leiter dan L. Robichaud, "Relationships of Occupational Hazards with Burnout : An Assessment of Measures and Models," Journal of Occupational Health Psychology 2, 1997; Maslach dan Leiter, The Truth About Burnout.) > > Keenam faktor tersebut adalah : > > 1. Beban kerja berlebihan : Terlalu
banyaknya pekerjaan, sedikitnya waktu yang tersedia dan tidak adanya dukungan sistem menghabiskan cadangan sumber daya dan berdampak pada menurunnya kualitas kerja. Misal : rasio perawat dengan jumlah pasien yang tidak seimbang, banyaknya jumlah transaksi yang harus dilakukan petugas bank, manajer yang terlalu banyak melakukan tugas administratif dsb. > > 2. Kurangnya wewenang : Besarnya tanggung jawab yang harus dipikul namun tidak disertai wewenang dalam membuat keputusan. Misal : campur tangan atasan yang berlebihan sampai ke aspek tehnis, standar operating prosedur (SOP) yang terlalu kaku dsb. > > 3. Imbalan yang tidak memadai : Kecilnya upah dibandingkan dengan volume pekerjaan, tidak menariknya skema insentif dari target yang ingin dicapai, terjadinya perubahan kebijakan yang lebih buruk dari kebijakan sebelumnya. Misal : penundaan kenaikan upah, perubahan menjadi tenaga kontrak,
pengurangan tunjangan kesejahteraan, ditiadakannya bonus dsb. > > 4. Hilangnya sambung rasa : Terjadinya pengkotak-kotakan penugasan yang berdampak pada meningkatnya isolasi sosial dalam lingkungan kerja. Misal : adanya job desk yang terlalu kaku, gaya manajemen "devide et empera" yang suka memelihara konflik dsb. > > 5. Perlakuan yang tidak adil : Perlakuan yang tidak sama dan bukan berdasarkan "kompetensi" melainkan "like or dislike". Misal : kebijakan yang arogan, tidak adanya sistem imbalan yang jelas dan baku, diskriminasi berdasarkan pada kesamaan suku, kesamaan alumni, kesamaan minat, nepotisme, dsb. > > 6. Terjadinya konflik nilai : Ketidak-sesuaian antara prinsip pribadi dengan tuntutan pekerjaan. Misal : penugasan yang mengharuskan mereka "menyogok", berbohong, ataupun taktik lain yang menghalalkan segala cara namun aktifitas tsb. bertentangan dengan nilai moral yang
diyakininya. > > "Keluaran" dari praktek praktek yang tidak "fair" inilah yang berpotensi menimbulkan sinisme, menurunnya motivasi, kinerja hingga kelelahan mental kronis pada karyawan. > > Isywara Mahendratto > http://servocenter.wordpress.com/ > > --------------------------------- > > Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. > Yahoo! Answers - Check it out. > > > > > --------------------------------- > Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone who knows. > Yahoo! Answers - Check it out. >
Salam kenal buat bung Heriyanto.
Terima kasih atas sharingnya dan sangat inspiratif.
Saya sangat setuju dengan pendapat Anda khususnya pada pembentukan
jati diri yang on track (meminjam istilah Anda).
Hanya harus diakui bahwa kebanyakan di Indonesia, ilmu "berani
hidup" selama ini masih diperoleh secara alamiah dan situasional
tergantung dari kebiasaan keluarga, sekolah, tetangga, lingkungan
kerja yang nota bene juga terbentuk secara alamiah.
Padahal "kecerdasan emosional" ataupun "kecerdasan sikap" sebagai
sebuah keterampilan hidup dapat dirancang, direkayasa (baca :
dikondisikan) sesuai output yang diinginkan. Bahkan dinegara maju
hal tersebut sudah dilembagakan dalam bentuk pusat pengembangan
kreatifitas, lembaga riset produktifitas, pusat pengembangan budaya
dsb.
Kalaupun posting anggaran pendidikan RI yang 20% APBN jadi (?)
dikeluarkan, seharusnya pendistribusian sebahagian besar anggaran
difokuskan pada pemberdayaan SDM, life skill education,
entrepreneurship dsb.
Demikian pula perusahaan perusahaan yang telah memiliki kepedulian
(anggaran) dalam pengembangan SDMnya, sebaiknya porsi pelatihan yang
berhubungan dengan motivasi, kecerdasan sikap, team building
diperbesar dan dilakukan secara kontinyu. Dengan demikian saat
karyawan mulai menyadari bahwa "kompetensi" merupakan kebutuhan
pribadi, karyawan telah siap membiayai sendiri pelatihan tehnis,
melanjutkan kuliah dsb. Sehingga anggaran pelatihan perusahaan dapat
dihemat dan digunakan untuk pelatihan pelatihan khusus.
Pada skala rumah tangga, dari sebahagian penghasilan yang dimiliki
perlu pula dianggarkan untuk memenuhi kebutuhan "gaya hidup"
membaca, pelatihan ekstra tentang pendidikan anak, ilmu komunikasi
dan manajemen berkeluarga dsb.
Insya Allah, pembentukan jati diri Anak Indonesia, keluarga
Indonesia, karyawan perusahaan Indonesia selalu "On Track" seperti
yang kita semua inginkan. Amien.
Isywara Mahendratto
http://servocenter.wordpress.com/
--- In Diskusi-Kepemimpinan@yahoogroups.com, heriyanto notoseputro
<r.heriyanto@...> wrote:
>
> Dari pengalaman baca yang saya peroleh, setiap karyawan atau
bahkan setiap manusia yang ingin merealisasikan sifat manusia
yang 'omnipotent' alias serba bisa, diantaranya harus menyadari
beberapa hal:
>
> Selalu berkomunikasi kepada Tuhan, di dalam situasi apapun.
Komunikasi kepada Tuhan analog dengan apa yang sering disebut 'self
talk' dan ini bisa meregulasi diri sendiri atau membangun
integritas dalam pengertian kesamaan kata dengan perbuatan. Kalau
diri kita selalu berkomunikasi dengan Tuhan, 'ya Tuhan beri aku
kesehatan jiwa raga agar aku bisa bermanfaat di kantor ku sehingga
aku bisa mensejahterakan lingkunganku' apabila 'self talk'nya
berkualitas perilakunya akan sangat helpful, selalu memberdayakan
dirinya untuk memberdayakan lingkungannya, dalam situasi
perekonomian yang normal, orang seperti ini akan memdapatkan
lingkungan yang mensejahterakan dirinya, keluarganya, organisasi
kerjanya, interaksi disekitarnya akan bersifar resiprokal yang
berdaya guna.
> selalu berpergang pada platform, prosperity is the right use of
one kind to lead an increase in other kinds, yang maksudnya selalu
mendaya gunakan semua sumber daya yang dimilikinya baik materi atau
non materi sehingga punya fungsi multiplier sehingga punya
dampak 'multi effek'. Take home-pay yang penggunaannya
didifersifikasikan sedemikian rupa dampaknya akan lebih berlipat
ganda dari pada, misalnya hanya digunakan untuk makan saja. Saya
pernah berpenghasilan hanya cukup untuk makan, tapi saya
menggunakannya untuk makan sehari sekali, untuk kursus bahasa
inggris, memberikan sebagian pada orang tua, dengan begini saya bisa
bertahan karena masih makan, saya bisa tekun memohon pada Tuhan
karena tidak terlalu kenyang, saya punya komitmen untuk berpikir
bagaimana mendapatkan kualitas kehidupan yang lebih baik, pemahaman
bahasa inggris saya meningkat, ketenangan emosi saya terjaga karena
selalu ingat orang-tua, dan dampak dari ini semua membuat banyak hal
lagi yang bisa saya
> lakukan karena pemahaman bahasa inggris saya misalnya membuat
bacaan saya bukan hanya buku yang berbahasa indonesia, lingkungan
saya termasuk para native speaker dari beragam bangsa, saya dapat
kerjaan dan gaji yang lebih bisa di kembang-tumbuhkan lagi.
> Keep long-life learning, manusia akan punya derajat
kemanusiaan, bisa lebih exist sebagai manusia kalu punya iman dan
ilmu. Seberapa kualitas iman dan ilmu kita hanya bisa ditentukan
oleh seberapa berkualitasnya kita belajar melalu 'membaca'.
> Dengan tiga hal diatas yang dikembangkan sedemikian rupa, kita
akan meraih berbagai karakter yang menuntun kita pada jalan yang 'on
trak' menuju kesuksesan karier dalam arti mampu memberdayakan diri
dan dalam waktu yang bersamaan juga memberdayakan lingkungan pribadi
dan dan lingkungan organisasi atau seluruh stakeholder di dalam
kehidupan kita, karakter yang dimaksud:
>
> Emotionally Stability, ketidak stabilan emosi biasanya karena
adanya gap antara keinginan untuk mengendalikan dengan
ketidakmampuan karena beberapa keterbatasan termasuk kurangnya
pengetahuan untuk mengendalikan. Kestabilan emosi mengurangi
hambatan komunikasi yang benar dan berkesinambungan di dalam
meningkatkatkan kinerja diri dan lingkungannya.
> Defence Mechanism, kita tidak akan terlalu 'mempertahankan diri
dalam setiap tindakan, kita tidak terlalu 'bertopeng' di dalam
bersikap, kalau memang alah kita mau disalahkan dan belajar dari
kesalahan itu. Karakter ini membuat kita menjadi orang yang mau
belajar untuk mendapatkan dan menerima apapun yang benar dan dari
manapun datangnya kebenaran itu termasuh dari bawahan atau anak
buahanya sekalipun.
> Interpersonalship, bagaimana menciptakan interaksi antar
pribadi dengan tepat dan benar sesuai yang dibutuhkan oleh
lingkungan.
> integrity, kesatuan kata dan perbuatan memberikan kepercayaan
pada lingkungan dan tidak menimbulkan 'kebingungan' di dalam menilai
kinerja yang di harapkan.
> technical and cognitive skill, kemampuan secara kognitif dan
teknis selalu di tuntut pengembangannya untuk perkembangan individu
maupun organisasi.
> Kelelahan, kejenuhan, kebosanan adalah khas manusia dan semua
ini membuat kinerja yang buruk, karena itu setiap agen perubahan di
dalam organisasi harus memfasilitasi tumbuhnya budaya selalu
berkomunikasi pada Tuhan-nys, memahami pentingnya menjadikan
sumberdaya yang dimiliki setiap individu bisa berfungsi
sebagai 'multiplier', Keep Longlife Learning, sehingga 'traits'
emotionally stability, defence mechanism, interpersonalship,
integity & technical and cognitive skill bisa di kelola untuk
menjadi sesuatu yang mampu mengelola kinerja yang memberdayakan
organisasi dan seluruh karyawannya.
>
>
> Isywara Mahendratto <isywaramahendratto@...> wrote:
> Studi tentang faktor faktor penyebab kelelahan lahir
batin dalam organisasi yang dilakukan pada beberapa ribu pria dan
wanita dari ratusan perusahaan selama dua puluh tahun menunjukkan
terdapat enam faktor utama yang menyebabkan menurunnya moral dan
motivasi karyawan. (Michael P. Leiter dan L.
Robichaud, "Relationships of Occupational Hazards with Burnout : An
Assessment of Measures and Models," Journal of Occupational Health
Psychology 2, 1997; Maslach dan Leiter, The Truth About Burnout.)
>
> Keenam faktor tersebut adalah :
>
> 1. Beban kerja berlebihan : Terlalu banyaknya pekerjaan,
sedikitnya waktu yang tersedia dan tidak adanya dukungan sistem
menghabiskan cadangan sumber daya dan berdampak pada menurunnya
kualitas kerja. Misal : rasio perawat dengan jumlah pasien yang
tidak seimbang, banyaknya jumlah transaksi yang harus dilakukan
petugas bank, manajer yang terlalu banyak melakukan tugas
administratif dsb.
>
> 2. Kurangnya wewenang : Besarnya tanggung jawab yang harus
dipikul namun tidak disertai wewenang dalam membuat keputusan.
Misal : campur tangan atasan yang berlebihan sampai ke aspek tehnis,
standar operating prosedur (SOP) yang terlalu kaku dsb.
>
> 3. Imbalan yang tidak memadai : Kecilnya upah dibandingkan
dengan volume pekerjaan, tidak menariknya skema insentif dari target
yang ingin dicapai, terjadinya perubahan kebijakan yang lebih buruk
dari kebijakan sebelumnya. Misal : penundaan kenaikan upah,
perubahan menjadi tenaga kontrak, pengurangan tunjangan
kesejahteraan, ditiadakannya bonus dsb.
>
> 4. Hilangnya sambung rasa : Terjadinya pengkotak-kotakan
penugasan yang berdampak pada meningkatnya isolasi sosial dalam
lingkungan kerja. Misal : adanya job desk yang terlalu kaku, gaya
manajemen "devide et empera" yang suka memelihara konflik dsb.
>
> 5. Perlakuan yang tidak adil : Perlakuan yang tidak sama dan
bukan berdasarkan "kompetensi" melainkan "like or dislike". Misal :
kebijakan yang arogan, tidak adanya sistem imbalan yang jelas dan
baku, diskriminasi berdasarkan pada kesamaan suku, kesamaan alumni,
kesamaan minat, nepotisme, dsb.
>
> 6. Terjadinya konflik nilai : Ketidak-sesuaian antara prinsip
pribadi dengan tuntutan pekerjaan. Misal : penugasan yang
mengharuskan mereka "menyogok", berbohong, ataupun taktik lain yang
menghalalkan segala cara namun aktifitas tsb. bertentangan dengan
nilai moral yang diyakininya.
>
> "Keluaran" dari praktek praktek yang tidak "fair" inilah yang
berpotensi menimbulkan sinisme, menurunnya motivasi, kinerja hingga
kelelahan mental kronis pada karyawan.
>
> Isywara Mahendratto
> http://servocenter.wordpress.com/
>
> ---------------------------------
>
> Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone
who knows.
> Yahoo! Answers - Check it out.
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone
who knows.
> Yahoo! Answers - Check it out.
>
Dari pengalaman baca yang saya peroleh, setiap karyawan atau bahkan setiap manusia yang ingin merealisasikan sifat manusia yang 'omnipotent' alias serba bisa, diantaranya harus menyadari beberapa hal:
Selalu berkomunikasi kepada Tuhan, di dalam situasi apapun. Komunikasi kepada Tuhan analog dengan apa yang sering disebut 'self talk' dan ini bisa meregulasi diri sendiri atau membangun integritas dalam pengertian kesamaan kata dengan perbuatan. Kalau diri kita selalu berkomunikasi dengan Tuhan, 'ya Tuhan beri aku kesehatan jiwa raga agar aku bisa bermanfaat di kantor ku sehingga aku bisa mensejahterakan lingkunganku' apabila 'self talk'nya berkualitas perilakunya akan sangat helpful, selalu memberdayakan dirinya untuk memberdayakan lingkungannya, dalam situasi perekonomian yang normal, orang seperti ini akan memdapatkan lingkungan yang mensejahterakan dirinya, keluarganya, organisasi kerjanya, interaksi disekitarnya akan bersifar resiprokal
yang berdaya guna.
selalu berpergang pada platform, prosperity is the right use of one kind to lead an increase in other kinds, yang maksudnya selalu mendaya gunakan semua sumber daya yang dimilikinya baik materi atau non materi sehingga punya fungsi multiplier sehingga punya dampak 'multi effek'. Take home-pay yang penggunaannya didifersifikasikan sedemikian rupa dampaknya akan lebih berlipat ganda dari pada, misalnya hanya digunakan untuk makan saja. Saya pernah berpenghasilan hanya cukup untuk makan, tapi saya menggunakannya untuk makan sehari sekali, untuk kursus bahasa inggris, memberikan sebagian pada orang tua, dengan begini saya bisa bertahan karena masih makan, saya bisa tekun memohon pada Tuhan karena tidak terlalu kenyang, saya punya komitmen untuk berpikir bagaimana mendapatkan kualitas kehidupan yang lebih baik, pemahaman bahasa inggris saya meningkat, ketenangan emosi saya terjaga karena selalu ingat orang-tua, dan dampak dari ini semua membuat
banyak hal lagi yang bisa saya lakukan karena pemahaman bahasa inggris saya misalnya membuat bacaan saya bukan hanya buku yang berbahasa indonesia, lingkungan saya termasuk para native speaker dari beragam bangsa, saya dapat kerjaan dan gaji yang lebih bisa di kembang-tumbuhkan lagi.
Keep long-life learning, manusia akan punya derajat kemanusiaan, bisa lebih exist sebagai manusia kalu punya iman dan ilmu. Seberapa kualitas iman dan ilmu kita hanya bisa ditentukan oleh seberapa berkualitasnya kita belajar melalu 'membaca'.
Dengan tiga hal diatas yang dikembangkan sedemikian rupa, kita akan meraih berbagai karakter yang menuntun kita pada jalan yang 'on trak' menuju kesuksesan karier dalam arti mampu memberdayakan diri dan dalam waktu yang bersamaan juga memberdayakan lingkungan pribadi dan dan lingkungan organisasi atau seluruh stakeholder di dalam kehidupan kita, karakter yang dimaksud:
Emotionally Stability, ketidak
stabilan emosi biasanya karena adanya gap antara keinginan untuk mengendalikan dengan ketidakmampuan karena beberapa keterbatasan termasuk kurangnya pengetahuan untuk mengendalikan. Kestabilan emosi mengurangi hambatan komunikasi yang benar dan berkesinambungan di dalam meningkatkatkan kinerja diri dan lingkungannya.
Defence Mechanism, kita tidak akan terlalu 'mempertahankan diri dalam setiap tindakan, kita tidak terlalu 'bertopeng' di dalam bersikap, kalau memang alah kita mau disalahkan dan belajar dari kesalahan itu. Karakter ini membuat kita menjadi orang yang mau belajar untuk mendapatkan dan menerima apapun yang benar dan dari manapun datangnya kebenaran itu termasuh dari bawahan atau anak buahanya sekalipun.
Interpersonalship, bagaimana menciptakan interaksi antar pribadi dengan tepat dan benar sesuai yang dibutuhkan oleh lingkungan.
integrity, kesatuan kata dan perbuatan memberikan kepercayaan pada lingkungan dan tidak menimbulkan
'kebingungan' di dalam menilai kinerja yang di harapkan.
technical and cognitive skill, kemampuan secara kognitif dan teknis selalu di tuntut pengembangannya untuk perkembangan individu maupun organisasi.
Kelelahan, kejenuhan, kebosanan adalah khas manusia dan semua ini membuat kinerja yang buruk, karena itu setiap agen perubahan di dalam organisasi harus memfasilitasi tumbuhnya budaya selalu berkomunikasi pada Tuhan-nys, memahami pentingnya menjadikan sumberdaya yang dimiliki setiap individu bisa berfungsi sebagai 'multiplier', Keep Longlife Learning, sehingga 'traits' emotionally stability, defence mechanism, interpersonalship, integity & technical and cognitive skill bisa di kelola untuk menjadi sesuatu yang mampu mengelola kinerja yang memberdayakan organisasi dan seluruh karyawannya.
Studi tentang faktor faktor penyebab kelelahan lahir batin dalam organisasi yang dilakukan pada beberapa ribu pria dan wanita dari ratusan perusahaan selama dua puluh tahun menunjukkan terdapat enam faktor utama yang menyebabkan menurunnya moral dan motivasi karyawan. (Michael P. Leiter dan L. Robichaud, “Relationships of Occupational Hazards with Burnout : An Assessment of Measures and Models,” Journal of Occupational Health Psychology 2, 1997; Maslach dan Leiter, The Truth About Burnout.)
Keenam faktor tersebut adalah :
1. Beban kerja berlebihan :
Terlalu banyaknya pekerjaan, sedikitnya waktu yang tersedia dan tidak adanya dukungan sistem menghabiskan cadangan sumber daya dan berdampak pada menurunnya kualitas kerja. Misal : rasio perawat dengan jumlah pasien yang tidak seimbang, banyaknya jumlah transaksi yang harus dilakukan petugas bank, manajer yang terlalu banyak melakukan tugas administratif dsb.
2. Kurangnya wewenang : Besarnya tanggung jawab yang harus dipikul namun tidak disertai wewenang dalam membuat keputusan. Misal : campur tangan atasan yang berlebihan sampai ke aspek tehnis, standar operating prosedur (SOP) yang terlalu kaku dsb.
3. Imbalan yang tidak memadai : Kecilnya upah dibandingkan dengan volume pekerjaan, tidak menariknya skema insentif dari target yang ingin dicapai, terjadinya perubahan kebijakan yang lebih buruk dari kebijakan sebelumnya. Misal : penundaan kenaikan upah, perubahan menjadi tenaga kontrak, pengurangan tunjangan
kesejahteraan, ditiadakannya bonus dsb.
4. Hilangnya sambung rasa : Terjadinya pengkotak-kotakan penugasan yang berdampak pada meningkatnya isolasi sosial dalam lingkungan kerja. Misal : adanya job desk yang terlalu kaku, gaya manajemen “devide et empera” yang suka memelihara konflik dsb.
5. Perlakuan yang tidak adil : Perlakuan yang tidak sama dan bukan berdasarkan “kompetensi” melainkan “like or dislike”. Misal : kebijakan yang arogan, tidak adanya sistem imbalan yang jelas dan baku, diskriminasi berdasarkan pada kesamaan suku, kesamaan alumni, kesamaan minat, nepotisme, dsb.
6. Terjadinya konflik nilai : Ketidak-sesuaian antara prinsip pribadi dengan tuntutan pekerjaan. Misal : penugasan yang mengharuskan mereka “menyogok”, berbohong, ataupun taktik lain yang menghalalkan segala cara namun aktifitas tsb. bertentangan dengan nilai moral yang diyakininya.
“Keluaran” dari praktek praktek yang tidak “fair” inilah yang berpotensi menimbulkan sinisme, menurunnya motivasi, kinerja hingga kelelahan mental kronis pada karyawan.
Studi tentang faktor faktor penyebab kelelahan lahir batin dalam organisasi yang dilakukan pada beberapa ribu pria dan wanita dari ratusan perusahaan selama dua puluh tahun menunjukkan terdapat enam faktor utama yang menyebabkan menurunnya moral dan motivasi karyawan. (Michael P. Leiter dan L. Robichaud, “Relationships of Occupational Hazards with Burnout : An Assessment of Measures and Models,” Journal of Occupational Health Psychology 2, 1997; Maslach dan Leiter, The Truth About Burnout.)
Keenam faktor tersebut adalah :
1. Beban kerja berlebihan : Terlalu banyaknya pekerjaan, sedikitnya waktu yang tersedia dan tidak adanya dukungan sistem menghabiskan cadangan sumber daya dan berdampak pada menurunnya kualitas kerja. Misal : rasio perawat dengan jumlah pasien yang tidak seimbang, banyaknya jumlah transaksi yang harus dilakukan petugas bank, manajer yang terlalu banyak melakukan tugas administratif
dsb.
2. Kurangnya wewenang : Besarnya tanggung jawab yang harus dipikul namun tidak disertai wewenang dalam membuat keputusan. Misal : campur tangan atasan yang berlebihan sampai ke aspek tehnis, standar operating prosedur (SOP) yang terlalu kaku dsb.
3. Imbalan yang tidak memadai : Kecilnya upah dibandingkan dengan volume pekerjaan, tidak menariknya skema insentif dari target yang ingin dicapai, terjadinya perubahan kebijakan yang lebih buruk dari kebijakan sebelumnya. Misal : penundaan kenaikan upah, perubahan menjadi tenaga kontrak, pengurangan tunjangan kesejahteraan, ditiadakannya bonus dsb.
4. Hilangnya sambung rasa : Terjadinya pengkotak-kotakan penugasan yang berdampak pada meningkatnya isolasi sosial dalam lingkungan kerja. Misal : adanya job desk yang terlalu kaku, gaya manajemen “devide et empera” yang suka memelihara konflik dsb.
5.
Perlakuan yang tidak adil : Perlakuan yang tidak sama dan bukan berdasarkan “kompetensi” melainkan “like or dislike”. Misal : kebijakan yang arogan, tidak adanya sistem imbalan yang jelas dan baku, diskriminasi berdasarkan pada kesamaan suku, kesamaan alumni, kesamaan minat, nepotisme, dsb.
6. Terjadinya konflik nilai : Ketidak-sesuaian antara prinsip pribadi dengan tuntutan pekerjaan. Misal : penugasan yang mengharuskan mereka “menyogok”, berbohong, ataupun taktik lain yang menghalalkan segala cara namun aktifitas tsb. bertentangan dengan nilai moral yang diyakininya.
“Keluaran” dari praktek praktek yang tidak “fair” inilah yang berpotensi menimbulkan sinisme, menurunnya motivasi, kinerja hingga kelelahan mental kronis pada karyawan.
Sebelum berkecimpung di bidang “kecerdasan sikap” atau “kecerdasan emosional” yang sekarang, saya berprofesi sebagai konsultan ISO 9000 diperusahaan yang sama.
Satu fenomena menarik yang sering saya temukan diberbagai perusahaan yang saya bimbing (barangkali fenomena ini pulalah yang menyebabkan saya sekarang beralih profesi menggeluti bidang kecerdasan sikap / kecerdasan emosi) adalah walaupun perusahaan sudah memiliki Visi dan Misi yang luar biasa bagus namun sering hanya “habis” sebagai penghias dinding disetiap ruang perusahaan saja.
Demikian halnya dengan Manual Mutu, Prosedur Mutu, Instruksi Kerja ataupun Dokumen Pendukung lainnya hanya menjadi dokumen “pasif” yang sekedar memenuhi persyaratan sertifikasi, bahkan terkadang menjadi tambahan beban administratif belaka.
Seolah perusahaan tidak memiliki “ruh” ataupun kehilangan semangat “bertumbuh” sama sekali, padahal
sebagai sebuah tools, ISO 9000 merupakan sebuah sistem yang sangat bagus dan dinamis.
Usut punya usut ternyata ada beberapa pertanyaan “mendasar” yang harus dijawab perusahaan sebelum dan sesudah menerapkan ISO 9000, yaitu :
- Apakah Visi dan Misi perusahaan sejalan dengan Visi Misi pribadi karyawan ybs. ? - Apakah sasaran mutu fungsi memang benar benar diinginkan oleh masing masing fungsi ? - Apakah prosedur sudah dipandang sebagai “cara” yang akan memudahkan dan “melindungi” pekerjaan karyawan ? - Apakah karyawan sudah melihat bahwa “kompetensi” merupakan kebutuhan pribadi ybs. ? - Apakah setiap “ketidak sesuaian” yang ditemukan sudah difahami sebagai sebuah sarana “bertumbuh” (atau malah difahami sebaliknya sebagai sebuah aib) ? - Apakah karyawan sudah memahami bahwa mereka merupakan “sel” penting dari sebuah fungsi ? - Apakah karyawan sudah menyadari bahwa sebagai sebuah fungsi dari sebuah
sistem, mereka harus saling bekerja sama ?
Dan banyak pertanyaan lain yang berhubungan dengan “kecerdasan sikap” ataupun “kecerdasan emosional” yang harus dijawab oleh karyawan sebelum dan sesudah menjalankan ISO 9000.
Untuk menjamin kebebasan berpendapat (sepakat untuk tidak sepakat) sekaligus
untuk kenyamanan bersama, ditetapkan Tata Tertib milis Diskusi-Kepemimpinan
sebagai berikut :
1. Milis Diskusi-Kepemimpinan hanya menerima dan meneruskan e-mail yang
mengandung unsur kebaikan, menarik dan inspiratif.
2. Pola komunikasi antar anggota Milis Diskusi-Kepemimpinan bersifat Interaktif
atau Dua Arah. Untuk itu :
a. Bagi rekan yang ingin berdiskusi, memberikan tanggapan, keberatan ataupun
protes keras atas artikel sebelumnya, disarankan untuk menyajikannya dalam
bentuk tulisan / artikel tandingan lengkap dengan alasan, dalil ataupun dasar
hukumnya
b. Tanggapan, keberatan ataupun protes keras yang bersifat menilai / menyerang
langsung pribadi penulis terdahulu, tidak akan diteruskan Moderator.
c. Bagi yang bermaksud bertanya, memberikan tanggapan, komentar pendek, protes
keras, disarankan langsung ke e-mail pribadi (japri) terkait.
d. Apabila dipandang perlu, Moderator berhak memberikan catatan kaki serta
melakukan proses editing dengan tanpa mengubah ide penulisan.
e. Email tanggapan / komentar (Re:) yang bersifat celetukan atau basa basi tidak
akan diteruskan Moderator.
3. Email Diskusi-Kepemimpinan di moderasi, oleh sebab itu email yang tidak
sesuai dengan tujuan milis, seperti artikel yang mengandung unsur SARA, SPAM,
Pornografi, MLM, Iklan, Pelecehan, Umpatan dll. akan diedit / ditolak / dihapus.
Anda dapat langsung di "banned" Moderator tanpa peringatan terlebih dahulu.
4. Milis hanyalah sebuah sarana ! Oleh sebab itu, gunakanlah fasilitas Milis
secara bertanggung jawab. Milis Diskusi-Kepemimpinan tidak bertanggung jawab
atas "kebenaran" isi Email Anda ataupun segala akibat yang ditimbulkannya.
Selamat Berkontribusi dan Selamat Menikmati !
Keputusan untuk menaikkan gaji ataupun tunjangan karyawan bukanlah langkah yang lazim diambil perusahaan sebagai sebuah strategi “bertumbuh”.
Sekali keputusan diambil, semenjak itu pula biaya tambahan menjadi “pasti” dan tidak mungkin “turun”, sementara jaminan peningkatan “omzet”, belum tentu terjadi.
Disisi lain, ketidak mampuan perusahaan untuk memenuhi tuntutan kenaikan gaji karyawan akibat pengaruh inflasi beresiko menurunkan kinerja karyawan.
Penurunan kinerja karyawan berarti pula melambatnya laju pertumbuhan usaha atau lebih buruk lagi menjadikan perusahaan semakin uzur dan renta (pinjam syair Ebiet G. Ade).
Apa yang dapat perusahaan dan karyawan lakukan ?
Bersinergilah antara perusahaan dan karyawan secara sehat.
Bagi perusahaan, berfokuslah hanya pada “penyempurnaan”
sistem sedang bagi karyawan berfokuslah hanya pada “peningkatan” kompetensi.
Gunakan alat manajemen seperti ISO, Balance Score Card, Kaizen dsb. benar benar sebagai alat peningkatan manajemen, bukan tujuan. Dan karena yang menjalankan sistem adalah karyawan, berdayakan mereka dan jika perlu fasilitasi karyawan agar “mengerti” bahwa kompetensi dan bekerja secara team adalah kepentingan pribadi mereka. Dengan demikian perusahaan berpotensi terus tumbuh dan mampu mensejahterakan karyawannya dan yang terpenting tentunya “profit” perusahaan berpotensi meningkat.
Demikian halnya dengan karyawan…. Jadikan perusahaan sebagai sarana peningkatan kompetensi. Kalaupun perusahaan diuntungkan dengan kontribusi Anda, itu merupakan konsekwensi logis karena Anda bekerja di perusahaan tersebut. Kalaupun sistem perusahaan sedemikian buruk sehingga kompetensi Anda tidak dihargai, maka penuhi rancangan karir Anda yaitu hanya
bekerja di perusahaan yang menghargai kompetensi Anda.
Dengan demikian “harga diri” (dan pendapatan ? ) Anda akan semakin meningkat dan diperhitungkan.
Harga diri karyawan adalah tentang bagaimana seseorang karyawan menyukai dirinya, merasa nyaman dengan pilihan mentalnya, terlepas dari apakah pilihan mental dirinya positif atau negatif.
Terdapat 2 (dua) kemungkinan harga diri karyawan yang dapat terjadi :
1. Nyaman
1.a. Karyawan “tetap nyaman” dengan pilihan mental positifnya. Misal : Seorang karyawan baru (minoritas) tetap cuek (merasa nyaman) dan bekerja rajin (pilihan mental positif) dilingkungan kerja teman teman senior (mayoritas) yang pemalas atau pengeluh ?
1.b. Karyawan “tetap nyaman” dengan pilihan mental negatifnya. Misal : Seorang manajer merasa lega (merasa nyaman) jika sudah marah kebawahan (pilihan mental negatif)
2. Tidak Nyaman
2.a. Karyawan merasa “tidak nyaman” dengan pilihan mental positifnya. Misal : Seorang karyawan merasa tidak
enak (merasa tidak nyaman) saat harus bersikap jujur dan menolak titipan absen temannya (pilihan mental positif).
2.b. Karyawan merasa “tidak nyaman” dengan pilihan mental negatifnya. Misal : Seorang pimpinan marah pada dirinya sendiri (merasa tidak nyaman) karena tidak tegas (pilihan mental negatif).
Disinilah “kecerdasan sikap” karyawan menjadi penting !
Dengan membekali karyawan kemampuan untuk mengenal “perasaan dirinya” dan kemampuan untuk “menentukan pilihan mentalnya” diharapkan karyawan dapat “menentukan sikap” dengan benar yaitu “nyaman” hanya untuk “pilihan mental yang positif”.
Mohon maaf sebelumnya bila saya tidak terlalu menjelaskan: tentang
TeamMaster bisa lihat di www.teammasterindonesia.com (bila saya
jelaskan disini takut dikira iklan hehehe,... bila mau lebih detail
nanti bisa via japri)
Teori Balon Busuk
Suatu hari pak Bambang Bhakti (seorang Pakar Marketing) ketika
memimpin sebuah rapat darurat yang sifatnya intern (saat itu untuk
menyelesaikan permasalahan intern juga, yang kebetulan saya menjadi
notulennya)
menganalogkan dengan sebuah Balon...
bahwa masalah di kantor atau dalam Tim bila tidak segera
dipecahkan/diletuskan jadinya akan seperti udara busuk yang ada
dalam sebuah balon. Balon itu terlanjur busuk karena udara yang
masuk sudah busuk.
Masalah/persoalan/isyue yang ada dalam Tim/kelompok/organisasi bila
hanya dibicarakan secara pribadi dengan bisik-bisik tidak akan
menyelesaikan masalah, justru yang terjadi masalah semakin "Muleg"
dalam bahasa jawa.
kurang lebih demikian...
mohon maaf kurang lebihnya....
salam hangat
agus supriyo
--- In Diskusi-Kepemimpinan@yahoogroups.com, heriyanto notoseputro
<r.heriyanto@...> wrote:
>
> Tq mas Agus, teorinya memberi insight bernakna, tapi kurang jelas
dengan Teori Balon Busuk, bisa sedikit penjelasan? kedua,
teammasterIndonesia itu organisasi apa y? boleh tahu? thanks
>
> agus_supriyo <agus_as@...> wrote: Teori balon busuk
> Balon bila terisi udara yang busuk dia akan tetap busuk karena
tidak
> ada sirkulasi.
> Untuk menghilangkan bau busuk maka balon harus diletuskanc
sehingga
> akan bercampur dengan udara segarc dan akan menguap bersama angin.
>
> Teori tukang cukur
> Apabila sedang dicukur, jangan melawan, jangan menoleh ke kiri dan
> ke kanan. Biarkan sampai selesaic
> Apabila anda dikritik/dimarahi jangan di-counter attack. Biarkan
> selesai kritikan itu.atau kemarahan itu. Sampai selesaic sampai
> berhenti. Kalau sdh selesai cari waktu untuk membalasnya.
>
> Teori kereta kuda
> Sebuah kereta yang ditarik oleh enam ekor kuda, satu kuda
> kecepatannya 100 km/jam, 4 kuda kecepatannya 50 km/jam dan satu
kuda
> kecepatannya 25 km/jam maka kecepatan kereta adalah 25 km/jam.
> Sesuai dengan kecepatan kuda terlemah. Demikian pula dalam tim.
> Kecepatan tim untuk maju tergantung dari anggota tim terlemah.
>
> Teori Siang dan Malam
> Ketika ada seorang pemimpin yang sangat dominan, ia adalah
matahari
> di siang hari. Menenggelamkan cahaya bintang, tak satupun calon
> pemimpin yang nampak.
>
> Ketika matahari redup di sore hari.. bintang-bintang mulai
> bertebaran, tengah malam sang bintang dengan cahayanya masing-
masing
> bersinar amat terangc
>
> Teori Bulan Purnama
> Sungguh elok adalah sang Bulan Purnama.. cahayanya yang terang
> benderang tidak menjadikan bintang kehilangan makna. Ia mampu
> berbagi ruang, sehingga langit makin semarak. Jadilah Bulan,
dengan
> tetap memberi ruang pada bintang untuk tetap bersinar.
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Be a better Heartthrob. Get better relationship answers from
someone who knows.
> Yahoo! Answers - Check it out.
>
Tq mas Agus, teorinya memberi insight bernakna, tapi kurang jelas dengan Teori Balon Busuk, bisa sedikit penjelasan? kedua, teammasterIndonesia itu organisasi apa y? boleh tahu? thanks
agus_supriyo <agus_as@...> wrote:
Teori balon busuk Balon bila terisi udara yang busuk dia akan tetap busuk karena tidak ada sirkulasi. Untuk menghilangkan bau busuk maka balon harus diletuskanc sehingga akan bercampur dengan udara segarc dan akan menguap bersama angin.
Teori tukang cukur Apabila
sedang dicukur, jangan melawan, jangan menoleh ke kiri dan ke kanan. Biarkan sampai selesaic Apabila anda dikritik/dimarahi jangan di-counter attack. Biarkan selesai kritikan itu.atau kemarahan itu. Sampai selesaic sampai berhenti. Kalau sdh selesai cari waktu untuk membalasnya.
Teori kereta kuda Sebuah kereta yang ditarik oleh enam ekor kuda, satu kuda kecepatannya 100 km/jam, 4 kuda kecepatannya 50 km/jam dan satu kuda kecepatannya 25 km/jam maka kecepatan kereta adalah 25 km/jam. Sesuai dengan kecepatan kuda terlemah. Demikian pula dalam tim. Kecepatan tim untuk maju tergantung dari anggota tim terlemah.
Teori Siang dan Malam Ketika ada seorang pemimpin yang sangat dominan, ia adalah matahari di siang hari. Menenggelamkan cahaya bintang, tak satupun calon pemimpin yang nampak.
Ketika matahari redup di sore hari.. bintang-bintang mulai bertebaran, tengah malam sang bintang dengan cahayanya
masing-masing bersinar amat terangc
Teori Bulan Purnama Sungguh elok adalah sang Bulan Purnama.. cahayanya yang terang benderang tidak menjadikan bintang kehilangan makna. Ia mampu berbagi ruang, sehingga langit makin semarak. Jadilah Bulan, dengan tetap memberi ruang pada bintang untuk tetap bersinar.
Tulisanya bagus, thanks
--- In Diskusi-Kepemimpinan@yahoogroups.com, Isywara Mahendratto
<isywaramahendratto@...> wrote:
>
> Sama seperti manusia, perusahaan juga di lahirkan.
>
> Tubuh manusia disusun oleh milyaran unsur hidup terkecil atau
biasa disebut "sel" sedang perusahaan disusun oleh satuan hidup
terkecil yang biasa disebut "karyawan".
>
> Sel sel tersebut berkumpul membentuk jaringan seperti jaringan
otot, lemak, kelenjar, tulang, kulit, syaraf, pembuluh darah dan
sekumpulan jaringan akan membentuk organ organ tubuh seperti
jantung, ginjal, limpa, paru, hati dsb, sedang karyawan perusahaan
berkumpul membentuk unit kerja dan sekumpulan unit kerja akan
membentuk fungsi fungsi organisasi seperti marketing, pembiayaan,
produksi, ketersediaan, mutu dsb.
>
> Walaupun masing masing organ mempunyai fungsi yang berbeda namun
interaksi antar fungsi organ harus tetap harmonis dalam sebuah
kesatuan sistem yang tumbuh, demikian halnya dengan fungsi fungsi
dalam organisasi walaupun masing masing departemen memiliki peran
yang sangat penting, namun harus bersinergi menjadi sebuah
organisasi yang tumbuh.
>
> Pada manusia, peluang untuk tumbuh ataupun uzur tergantung dari
sikap hidup (kesehatan fisik dan psikis) manusia. Sedang perusahaan,
peluang untuk tumbuh ataupun uzur perusahaan tergantung dari "budaya
kerja" (sistem dan kepemimpinan karyawan) perusahaan.
>
> Jadi menjaga kesehatan perusahaan sama persis dengan menjaga
kesehatan manusia. Jika tubuh perlu asupan bergizi maka perusahaan
juga perlu input berkualitas. Jika tubuh perlu olah raga dan
istirahat yang cukup maka perusahaan juga perlu olah proses dan
pengendapan persoalan yang cukup. Jika manusia perlu memiliki
kehidupan sosial, maka perusahaan juga memerlukan jaringan kerja dan
pelanggan.
>
> Sama seperti tubuh manusia, sel, jaringan ataupun organ dapat
mengalami gangguan fisik akibat infeksi ataupun gangguan psikis
akibat stress maka perusahaan juga dapat mengalami "gangguan fisik"
seperti gangguan produksi, keuangan ataupun "gangguan psikis"
seperti komunikasi, pola interaksi dsb.
>
> Jika tubuh perlu kesadaran akan kesehatan jasmani dan rohani
maka perusahaan juga perlu visi misi yang jelas, kesadaran
kepemimpinan karyawan yang sehat, pola komunikasi yang baik,
interaksi antar fungsi yang sehat (baca : sistem) dan untuk itu
perlu dilakukan pembaharuan semangat kembali.
>
> Isywara Mahendratto
> http://servocenter.wordpress.com/
>
>
> ---------------------------------
> Be a better Globetrotter. Get better travel answers from someone
who knows.
> Yahoo! Answers - Check it out.
>
Teori balon busuk
Balon bila terisi udara yang busuk dia akan tetap busuk karena tidak
ada sirkulasi.
Untuk menghilangkan bau busuk maka balon harus diletuskanc sehingga
akan bercampur dengan udara segarc dan akan menguap bersama angin.
Teori tukang cukur
Apabila sedang dicukur, jangan melawan, jangan menoleh ke kiri dan
ke kanan. Biarkan sampai selesaic
Apabila anda dikritik/dimarahi jangan di-counter attack. Biarkan
selesai kritikan itu.atau kemarahan itu. Sampai selesaic sampai
berhenti. Kalau sdh selesai cari waktu untuk membalasnya.
Teori kereta kuda
Sebuah kereta yang ditarik oleh enam ekor kuda, satu kuda
kecepatannya 100 km/jam, 4 kuda kecepatannya 50 km/jam dan satu kuda
kecepatannya 25 km/jam maka kecepatan kereta adalah 25 km/jam.
Sesuai dengan kecepatan kuda terlemah. Demikian pula dalam tim.
Kecepatan tim untuk maju tergantung dari anggota tim terlemah.
Teori Siang dan Malam
Ketika ada seorang pemimpin yang sangat dominan, ia adalah matahari
di siang hari. Menenggelamkan cahaya bintang, tak satupun calon
pemimpin yang nampak.
Ketika matahari redup di sore hari.. bintang-bintang mulai
bertebaran, tengah malam sang bintang dengan cahayanya masing-masing
bersinar amat terangc
Teori Bulan Purnama
Sungguh elok adalah sang Bulan Purnama.. cahayanya yang terang
benderang tidak menjadikan bintang kehilangan makna. Ia mampu
berbagi ruang, sehingga langit makin semarak. Jadilah Bulan, dengan
tetap memberi ruang pada bintang untuk tetap bersinar.
Untuk menjamin kebebasan berpendapat (sepakat untuk tidak sepakat) sekaligus
untuk kenyamanan bersama, ditetapkan Tata Tertib milis Diskusi-Kepemimpinan
sebagai berikut :
1. Milis Diskusi-Kepemimpinan hanya menerima dan meneruskan e-mail yang
mengandung unsur kebaikan, menarik dan inspiratif.
2. Pola komunikasi antar anggota Milis Diskusi-Kepemimpinan bersifat Interaktif
atau Dua Arah. Untuk itu :
a. Bagi rekan yang ingin berdiskusi, memberikan tanggapan, keberatan ataupun
protes keras atas artikel sebelumnya, disarankan untuk menyajikannya dalam
bentuk tulisan / artikel tandingan lengkap dengan alasan, dalil ataupun dasar
hukumnya
b. Tanggapan, keberatan ataupun protes keras yang bersifat menilai / menyerang
langsung pribadi penulis terdahulu, tidak akan diteruskan Moderator.
c. Bagi yang bermaksud bertanya, memberikan tanggapan, komentar pendek, protes
keras, disarankan langsung ke e-mail pribadi (japri) terkait.
d. Apabila dipandang perlu, Moderator berhak memberikan catatan kaki serta
melakukan proses editing dengan tanpa mengubah ide penulisan.
e. Email tanggapan / komentar (Re:) yang bersifat celetukan atau basa basi tidak
akan diteruskan Moderator.
3. Email Diskusi-Kepemimpinan di moderasi, oleh sebab itu email yang tidak
sesuai dengan tujuan milis, seperti artikel yang mengandung unsur SARA, SPAM,
Pornografi, MLM, Iklan, Pelecehan, Umpatan dll. akan diedit / ditolak / dihapus.
Anda dapat langsung di "banned" Moderator tanpa peringatan terlebih dahulu.
4. Milis hanyalah sebuah sarana ! Oleh sebab itu, gunakanlah fasilitas Milis
secara bertanggung jawab. Milis Diskusi-Kepemimpinan tidak bertanggung jawab
atas "kebenaran" isi Email Anda ataupun segala akibat yang ditimbulkannya.
Selamat Berkontribusi dan Selamat Menikmati !
Sama seperti manusia, perusahaan juga di lahirkan.
Tubuh manusia disusun oleh milyaran unsur hidup terkecil atau biasa disebut "sel" sedang perusahaan disusun oleh satuan hidup terkecil yang biasa disebut "karyawan".
Sel sel tersebut berkumpul membentuk jaringan seperti jaringan otot, lemak, kelenjar, tulang, kulit, syaraf, pembuluh darah dan sekumpulan jaringan akan membentuk organ organ tubuh seperti jantung, ginjal, limpa, paru, hati dsb, sedang karyawan perusahaan berkumpul membentuk unit kerja dan sekumpulan unit kerja akan membentuk fungsi fungsi organisasi seperti marketing, pembiayaan, produksi, ketersediaan, mutu dsb.
Walaupun masing masing organ mempunyai fungsi yang berbeda namun interaksi antar fungsi organ harus tetap harmonis dalam sebuah kesatuan sistem yang tumbuh, demikian halnya dengan fungsi fungsi dalam organisasi walaupun masing masing departemen memiliki
peran yang sangat penting, namun harus bersinergi menjadi sebuah organisasi yang tumbuh.
Pada manusia, peluang untuk tumbuh ataupun uzur tergantung dari sikap hidup (kesehatan fisik dan psikis) manusia. Sedang perusahaan, peluang untuk tumbuh ataupun uzur perusahaan tergantung dari "budaya kerja" (sistem dan kepemimpinan karyawan) perusahaan.
Jadi menjaga kesehatan perusahaan sama persis dengan menjaga kesehatan manusia. Jika tubuh perlu asupan bergizi maka perusahaan juga perlu input berkualitas. Jika tubuh perlu olah raga dan istirahat yang cukup maka perusahaan juga perlu olah proses dan pengendapan persoalan yang cukup. Jika manusia perlu memiliki kehidupan sosial, maka perusahaan juga memerlukan jaringan kerja dan pelanggan.
Sama seperti tubuh manusia, sel, jaringan ataupun organ dapat mengalami gangguan fisik akibat infeksi ataupun gangguan psikis akibat stress
maka perusahaan juga dapat mengalami "gangguan fisik" seperti gangguan produksi, keuangan ataupun "gangguan psikis" seperti komunikasi, pola interaksi dsb.
Jika tubuh perlu kesadaran akan kesehatan jasmani dan rohani maka perusahaan juga perlu visi misi yang jelas, kesadaran kepemimpinan karyawan yang sehat, pola komunikasi yang baik, interaksi antar fungsi yang sehat (baca : sistem) dan untuk itu perlu dilakukan pembaharuan semangat kembali.
Untuk menjamin kebebasan berpendapat (sepakat untuk tidak sepakat) sekaligus
untuk kenyamanan bersama, ditetapkan Tata Tertib milis Diskusi-Kepemimpinan
sebagai berikut :
1. Milis Diskusi-Kepemimpinan hanya menerima dan meneruskan e-mail yang
mengandung unsur kebaikan, menarik dan inspiratif.
2. Pola komunikasi antar anggota Milis Diskusi-Kepemimpinan bersifat Interaktif
atau Dua Arah. Untuk itu :
a. Bagi rekan yang ingin berdiskusi, memberikan tanggapan, keberatan ataupun
protes keras atas artikel sebelumnya, disarankan untuk menyajikannya dalam
bentuk tulisan / artikel tandingan lengkap dengan alasan, dalil ataupun dasar
hukumnya
b. Tanggapan, keberatan ataupun protes keras yang bersifat menilai / menyerang
langsung pribadi penulis terdahulu, tidak akan diteruskan Moderator.
c. Bagi yang bermaksud bertanya, memberikan tanggapan, komentar pendek, protes
keras, disarankan langsung ke e-mail pribadi (japri) terkait.
d. Apabila dipandang perlu, Moderator berhak memberikan catatan kaki serta
melakukan proses editing dengan tanpa mengubah ide penulisan.
e. Email tanggapan / komentar (Re:) yang bersifat celetukan atau basa basi tidak
akan diteruskan Moderator.
3. Email Diskusi-Kepemimpinan di moderasi, oleh sebab itu email yang tidak
sesuai dengan tujuan milis, seperti artikel yang mengandung unsur SARA, SPAM,
Pornografi, MLM, Iklan, Pelecehan, Umpatan dll. akan diedit / ditolak / dihapus.
Anda dapat langsung di "banned" Moderator tanpa peringatan terlebih dahulu.
4. Milis hanyalah sebuah sarana ! Oleh sebab itu, gunakanlah fasilitas Milis
secara bertanggung jawab. Milis Diskusi-Kepemimpinan tidak bertanggung jawab
atas "kebenaran" isi Email Anda ataupun segala akibat yang ditimbulkannya.
Selamat Berkontribusi dan Selamat Menikmati !
Pelatihan kepemimpinan yang baik adalah pelatihan yang dapat
memberikan alasan yang kuat mengapa setiap orang harus menjadi
pemimpin, sekurang kurangnya adalah pemimpin bagi dirinya sendiri.
Pelatihan tsb. harus dapat menjelaskan mekanisme terbentuknya
pemimpin, langkah langkah untuk menjadi seorang pemimpin serta hal
apa saja yang dapat menghambat seseorang menjadi pemimpin.
Demikian pula tentang bagaimana mengharmonisasikan karakter elemen
ataupun fungsi yang berbeda dari sebuah sistem tanpa harus menjadi
seragam dan bagaimana sistem tsb. harus bergulir tumbuh.
Pelatihan tersebut harus dapat membantu menghilangkan hambatan
psikis seseorang dalam memimpin serta memberikan pangalaman peserta
menjadi pemimpin.
Ukuran keberhasilan dari sebuah pelatihan adalah peserta dapat
merasakan bagaimana menyenangkannya menjadi seorang pemimpin
sekaligus menjadi seorang yang dipimpin. Lihat artikel berikut :
http://servocenter.wordpress.com/2007/05/25/kepemimpinan-2/
Salam,
Isywara Mahendratto
Patricia Patton, seorang konsultan profesional pernah mengatakan :"It took a heart, soul and brains to lead a people ........" artinya seorang pemimpin haruslah memiliki kecerdasan intelektual dan emosional.
Daniel Goleman membagi tipe tipe kepemimpinan menjadi 6 tipe kepemimpinan yaitu :
1. Visionary, kepemimpinan yang memiliki Visi sehingga mampu
membawa staf ketujuan bersama
2. Coaching, kepemimpinan yang memberikan kesempatan pengasuhan ataupun pembelajaran
3. Affiliate, kepemimpinan yang mengedepankan keharmonisan ataupun kerja sama antar fungsi
4. Democratic, kepemimpinan yang menghargai pendapat ataupun sudut pandang orang lain, sekalipun berbeda
5. Pacesetting, kepemimpinan yang mampu memberikan model pencapaian sehingga lebih membumi
6. Commanding, kepemimpinan yang dapat bersikap tegas serta berani mengambil resiko, jika diperlukan
Dalam penerapannya ....kepemimpinan yang baik justru tidak dihasilkan oleh satu macam tipe kepemimpinan tertentu melainkan oleh kemampuan untuk tau "kapan" menggunakan tipe kepemimpinan yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang diperlukan.
Semakin terbiasa seorang mengambil posisi play maker, semakin matang gaya kepemimpinannya. Dulu kepemimpinan seseorang terbentuk secara pasif dan alamiah melalui proses panjang. Namun saat ini hal tersebut dapat di konstruksi secara sengaja, apabila diinginkan. Lihat artikel berikut : http://servocenter.wordpress.com/2007/05/15/395/
Kepemimpinan bersifat unik, abstrak namun dinamis tergantung dari visi dan misi pribadi, pola interaksi serta kepribadian ybs., itu sebabnya kepemimpinan tidak dapat diukur secara kuantitatif.
Sepakat bosss
--- In Diskusi-Kepemimpinan@yahoogroups.com, "Isywara Mahendratto"
<isywaramahendratto@...> wrote:
>
> Seorang pelopor psikologi konsultansi Harry Levinson pernah
> mengatakan bahwa di zaman sekarang orang butuh perasaan bahwa
> dirinya semakin hari semakin kompeten, sebab bila tidak demikian
> mereka akan tersingkir.
>
> Dalam sebuah studi terhadap para supervisor, manajer dan eksekutif
> di dua belas perusahaan, dampak paling besar dari upaya pengembangan
> orang lain justru dikalangan supervisor.
>
> Hasil studi menunjukkan bahwa kemampuan penyelia merupakan
> keterampilan yang sangat penting dalam mengelola orang orang orang
> di garis depan seperti operator mesin, customer service, agen
> penjualan, detailer dsb. Hal tersebut disebabkan seiring makin
> bertambahnya pengaruh para manajer dan eksekutif membuat peluang
> mereka untuk mengembangkan orang lain bergeser pada keterampilan
> kepemimpinan.
>
> Penelitian Christopher Orpen berjudul "The Effect of Mentoring on
> Employee, Career Success" yang dilakukan terhadap 58 manajer level
> atas, jabatan Vice President keatas, di perusahaan dengan penjualan
> tahunan 5 miliar dolar atau lebih, menyimpulkan bahwa mentoring yang
> baik harus dapat membantu karyawan bekerja lebih baik, meningkatkan
> kepuasan kerja, meningkatkan loyalitas.
>
> Bagaimana kalau sulit mendapatkan mentor terbaik ? Kalaupun sulit
> mendapatkan mentor terbaik, yang dapat Anda lakukan adalah
> memfasilitasi supervisor / manajer Anda dengan pelatihan motivasi,
> keterampilan berempati, kecerdasan emosi (EQ) dsb.
>
> Kunci aktifitas mentoring yang sukses adalah bagaimana
> mendapatkan "kepercayaan" karyawan karyawannya.
>
> http://servocenter.wordpress.com/
>
Budaya Perusahaan adalah kualitas sistem sebuah perusahaan (Isywara
Mahendratto).
Budaya perusahaan bersifat unik, abstrak namun dinamis tergantung
dari visi dan misi kepemimpinan, pola interaksi antar fungsi
(sistem) di perusahaan serta kecerdasan sikap karyawannya.
Menurut pendapat saya pribadi budaya tidak dapat di ukur secara
kuantitatif karena merupakan spirit dari sebuah sistem.
Kejelasan visi dan misi kepemimpinan akan sangat menentukan ke arah
mana perusahaan akan dibawa. Demikian pula kepiawaian kepemimpinan
dalam menghargai keunikan masing masing fungsi sekaligus
mengharmonisasikannya dalam sebuah orkestra pertumbuhan.
Pola interaksi antar fungsi (sistem) akan menentukan apakah sistem
mengikuti siklus tumbuh atau sebaliknya menjadi uzur. Model sistem
yang paling mudah difahami adalah model sistem S.E.R.V.O dimana
setiap fungsi memiliki sikap pengayom sekaligus pengendali fungsi
lainnya namun secara bersamaan diasuh dan dikontrol oleh fungsi
lainnya.
Standarisasi sistem manajemen ISO 9000 hanya mengatur tentang "apa"
saja yang harus dipenuhi perusahaan sebagai sebuah sistem, itupun
melalui pendekatan proses serta peningkatan mutu yang terus menerus.
Tetapi seberapa cepat perusahaan akan tumbuh (atau uzur), tetap
ditentukan oleh seberapa jauh visi dan misi perusahaan dihayati oleh
seluruh karyawan (internalisasi).
Sedang kecerdasan sikap karyawannya akan menentukan kualitas sikap
kerja karyawannya. Kecerdasan sikap tersebut meliputi kompetensi,
kreatifitas, team-work, penuh semangat / optimis, perilaku
produktif, bermental tumbuh, berkarya dengan hati, beremosi cerdas
(EQ), berorientasi pada tujuan, bermotif prestasi, berpikir
kualitas, bersikap positif dsb.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh pakar Harvard Business
School, yaitu Prof. DR. John Kottler dan Prof. DR. Janes Heskett,
ternyata terdapat korelasi positif di antara penerapan budaya
perusahaan dengan prestasi bisnis yang dicapai oleh perusahaan dalam
jangka waktu yang cukup panjang.
Bagaimana dengan budaya perusahaan Anda ?
Isywara Mahendratto
http://servocenter.wordpress.com/
Data statistik yang dikeluarkan oleh Forbes.com menunjukkan 87%
orang Amerika mengalami stress dalam bekerja.
Diperkirakan terjadi pemborosan sumber daya antara 150 sampai 200
milyar dollar setahun akibat stress dalam pekerjaan seperti gangguan
tidur, mudah marah, sakit perut, sakit kepala, kecemasan dsb.
Dapat dibayangkan betapa besar potensi "kebahagiaan" yang notabene
urusan pribadi karyawan ybs. terhadap output pekerjaan.
Sekalipun berdampak langsung terhadap kualitas dan kuantitas
pekerjaan namun perusahaan tidak dapat melakukan apa apa karena hal
tersebut merupakan "wilayah" pribadi ybs.
Tindakan kuratif berupa fasilitas konselling ataupun terapi,
biasanya tidak dimanfaatkan oleh ybs. sekalipun atas biaya
perusahaan. Mengapa demikian ? Karena untuk sampai pada sebuah
keputusan menerima fasilitas tsb., yang bersangkutan harus bersedia
mengalahkan ego pribadi terlebih dahulu. Dalam persepsi ybs.,
menerima tawaran tsb. berarti menunjukkan kekalahan atau kelemahan
dirinya.
Sedang tindakan hukuman berupa sanksi tidak banyak membantu
perusahaan karena jika output dibawah standard hanya akan merubah
perilaku sedikit diatas batas aman, tetapi tidak akan membuat ybs.
mengerahkan seluruh kemampuannya. Lagipula tindakan hukuman tidak
tepat karena tidak menyentuh akar permasalahan mengapa seorang
karyawan stress. Bisa jadi karyawan ybs. tidak menyadari dirinya
sedang stress atau kalaupun sadar ybs. tidak tau bagaimana "cara"
mengatasinya.
Namun tidak berarti hal tersebut tidak dapat disiasati.
Dukungan ataupun pembekalan pengetahuan mengenai konsep diri,
manajemen diri, manajemen sikap, manajemen stress, kecerdasan emosi
kepada karyawan justru sebaiknya diberikan sejak awal bekerja dan
tidak sewaktu persoalan pribadi muncul. Awal rekrutmen ataupun
promosi jabatan merupakan waktu emas untuk membekali karyawan dengan
pengetahuan mengenai kecerdasan sikap / emosi dan dapat pula di sela
sela rapat anggaran ataupun acara family gathering.
Isywara Mahendratto
http://servocenter.wordpress.com/
Indonesia kembali berduka !
Pesawat Garuda Boeing 737/400 dengan nomer penerbangan GA-200
terbakar disisi Timur landasan pacu Bandara Adisutjipto Yogyakarta,
desa Tegaltirto, Berbah, Sleman pada pukul 06.55. Peristiwa tsb.
menewaskan 21 penumpang dari total 140 penumpang.
Prinsip "Zero Accident" yang lazim diterapkan di industri
penerbangan ternyata tetap tidak mampu melawan kehendak Sang
Penguasa.
Pada titik kulminasi inilah tidak ada cara lain bagi korban yang
selamat ataupun anggota keluarga korban yang meninggal kecuali
menerima peristiwa tsb. sebagai "musibah" dan mengikhlaskan yang
telah terjadi kepada Nya.
Namun bagi maskapai penerbangan, peristiwa tsb. harus dipandang
sebagai "cobaan" dimana semua akibat yang ditimbulkannya harus siap
ditanggung sebagai resiko. Apakah komplain dari pihak keluarga
korban, apakah resiko kerugian, apakah resiko kehilangan kepercayaan
dsb.
Yang dapat dilakukan oleh maskapai penerbangan adalah meminimal
resiko dan dampak dari peristiwa tsb. Mulai dari kesigapan awak
pesawat/kabin dalam menolong korban saat kecelakaan berlangsung,
penanganan awak darat terhadap kepanikan keluarga korban, hingga
ganti rugi material maupun moril korban yang selamat ataupun anggota
keluarga korban yang meninggal.
Disamping memberikan uang santunan, kiranya perlu pula dipikirkan
tentang penanganan dampak psikologis yang dapat muncul dikemudian
hari seperti trauma psikis, potensi fobia bagi korban yang selamat
ataupun trauma kehilangan orang yang dicintai bagi anggota keluarga
yang ditinggalkan.
Guna mencegah berulangnya peristiwa yang sama dikemudian hari,
maskapai penerbangan harus dapat mengambil "hikmah" atas peristiwa
tersebut dan melakukan "ikhtiar" berupa perbaikan sistem manajemen
mutu dan keselamatan seperti perencanaan, prosedur kerja, inprocess
inspection, final inspection dsb.
Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah penanganan "aspek
mental" karyawan seperti petugas front office, inspector, awak
pesawat/kabin dsb. meliputi kepedulian terhadap pelanggan, kejujuran
dan ketaatan pada prosedur kerja, Kecerdasan Emosi (EQ) awak
pilot/kabin saat peristiwa darurat berlangsung dsb.
Jangan sampai saat peristiwa darurat terjadi, awak pilot/kabin
malah "panik sendiri" sehingga berpotensi mengurangi jumlah korban
yang dapat diselamatkan.
Semoga peristiwa tersebut memberi hikmah bagi kita semua. Amien.
http://servocenter.wordpress.com/
Terdapat perbedaan kepentingan antara sikap atau perilaku kerja
dengan sistem kerja di suatu perusahaan.
Sikap atau perilaku kerja yang baik merupakan kebutuhan individu,
sedang sistem kerja yang baik merupakan kebutuhan perusahaan.
Menurut Calhoun dan Acocella dalam buku Psychology of Adjustment and
Human Relationship, perilaku kerja dibutuhkan individu untuk menata
pola atau ritme kehidupan pribadi, sebagai dasar harga diri
seseorang dalam membangun kompetensi dirinya, membangun kehidupan
sosial, serta memberikan identitas atau status bagi dirinya.
Walau sikap atau perilaku kerja yang baik merupakan kebutuhan
individu ybs. namun perusahaan yang cerdas akan secara sadar
memfasilitasi pengembangan diri individu ybs. karena memiliki
karyawan dengan kecerdasan emosi (EQ) yang tinggi berarti penggunaan
potensi dan produktifitas karyawan secara maksimal.
Karyawan dengan kecerdasan emosi yang tinggi akan melihat "target
fungsi" sebagai tantangan yang menyenangkan karena secara otomatis
menjadi sinkron dengan "target pribadi"nya seperti kompetensi diri,
harga diri dan status sosial yang diinginkan dsb.
Bahkan tidak jarang ybs. bersedia membiayai pelatihan manajerial,
pelatihan tehnis bagi dirinya sendiri, karena sudah tidak sabar
menunggu giliran yang dijadwalkan perusahaan.
http://servocenter.wordpress.com/
Seorang pelopor psikologi konsultansi Harry Levinson pernah
mengatakan bahwa di zaman sekarang orang butuh perasaan bahwa
dirinya semakin hari semakin kompeten, sebab bila tidak demikian
mereka akan tersingkir.
Dalam sebuah studi terhadap para supervisor, manajer dan eksekutif
di dua belas perusahaan, dampak paling besar dari upaya pengembangan
orang lain justru dikalangan supervisor.
Hasil studi menunjukkan bahwa kemampuan penyelia merupakan
keterampilan yang sangat penting dalam mengelola orang orang orang
di garis depan seperti operator mesin, customer service, agen
penjualan, detailer dsb. Hal tersebut disebabkan seiring makin
bertambahnya pengaruh para manajer dan eksekutif membuat peluang
mereka untuk mengembangkan orang lain bergeser pada keterampilan
kepemimpinan.
Penelitian Christopher Orpen berjudul "The Effect of Mentoring on
Employee, Career Success" yang dilakukan terhadap 58 manajer level
atas, jabatan Vice President keatas, di perusahaan dengan penjualan
tahunan 5 miliar dolar atau lebih, menyimpulkan bahwa mentoring yang
baik harus dapat membantu karyawan bekerja lebih baik, meningkatkan
kepuasan kerja, meningkatkan loyalitas.
Bagaimana kalau sulit mendapatkan mentor terbaik ? Kalaupun sulit
mendapatkan mentor terbaik, yang dapat Anda lakukan adalah
memfasilitasi supervisor / manajer Anda dengan pelatihan motivasi,
keterampilan berempati, kecerdasan emosi (EQ) dsb.
Kunci aktifitas mentoring yang sukses adalah bagaimana
mendapatkan "kepercayaan" karyawan karyawannya.
http://servocenter.wordpress.com/
Terdapat hubungan yang sangat erat, penting dan terkait satu sama
lainnya antara pemulihan Trauma, Fobia, Mania, Kebiasaan Buruk
terhadap "Prestasi" seseorang.
Mengapa demikian ?
Kejadian ekstrim ataupun yang dapat menimbulkan "trauma fisik atau
psikis" yang dialami saat kecil, berpotensi menimbulkan "kecemasan"
kronis pada kehidupan sesudahnya. Demikian pula dengan "sugesti
ataupun mitos" yang salah yang ditanamkan dimasa lalu, walaupun
intensitasnya rendah, namun jika dilakukan secara terus menerus
dapat menimbulkan kecemasan serupa.
Selama tidak dilakukan katarsis (pelepasan ketegangan), emosi
negatif yang "terkunci" pada peristiwa pahit semakin lama akan
semakin terakumulasi mengikuti siklus peneguhan (mengalami fiksasi).
Seseorang dapat saja memaksakan diri (terpaksa) untuk menghadapi
sumber kecemasan, misal karena tuntutan pekerjaan, akan tetapi
biasanya menimbulkan kecemasan yang luar biasa ataupun ketakutan,
biasanya disebut dengan Fobia. Hal ini, jika terjadi dalam jangka
panjang akan sangat menguras energi dan berpotensi menimbulkan
kelelahan kronis atau depresi.
Karena tubuh tidak dapat terus menerus tegang, biasanya "diri" akan
melakukan kompensasi (lari dari masalah) dalam bentuk Mania,
Kecanduan/Adiksi ataupun Kebiasaan Buruk lainnya. Kebiasaan ini
memang dapat meredakan ketegangan sesaat, akan tetapi sangat
merugikan karena menghilangkan kesempatan untuk "belajar" mengatasi
persoalan.
Kehilangan kesempatan untuk "belajar" mengatasi persoalan berarti
menghilangkan kesempatan seseorang untuk tumbuh dan berprestasi. Dan
hilangnya kesempatan untuk tumbuh dan berprestasi, berarti
memperkecil peluang seseorang untuk "naik derajat".
Sulitnya seseorang untuk "naik derajat" berpotensi menimbulkan
kecemasan baru dan kesedihan baru. Dan semakin cemas ataupun semakin
depresinya seseorang berpotensi menimbulkan pikiran "BUNTU" dan
perasaan "GAGAL". Pikiran buntu dan perasaan gagal berpotensi
menimbulkan "PUTUS ASA"
Untuk itu fokus terapi harus kepada pemecahan akar permasalahannya.
Menghilangkan Fobia, Mania ataupun Kebiasaan Buruk tanpa
menghilangkan akar permasalahannya cuma mengalihkan ke "bentuk"
fobia, mania ataupun kebiasaan buruk lainnya.
Itu sebabnya, pemrograman Prestasi pada diri seseorang atau
karyawan, baru dapat dilakukan setelah hambatan Psikis (mental
blocks) dihilangkan terlebih dahulu.